Melihat 100 Hari Kerja Pemerintah dalam Penanggulangan Bencana di Indonesia
- Penulis : Ulil
- Rabu, 29 Januari 2025 08:39 WIB

Dari jumlah kejadian tersebut BNPB menerima permintaan untuk merehabilitasi dan merekonstruksi 17 jenis infrastruktur yang rusak berat hingga tidak bisa lagi digunakan dari pemerintah daerah.
Angka kerusakan infrastruktur tertinggi dalam satu tahun terakhir menyasar 95 unit jembatan dan 26 tanggul atau talud aliran sungai-pantai. Jumlah kerusakan ini meningkat drastis dibandingkan periode 2019-2020, dimana BNPB menerima usulan perbaikan 33 jembatan rusak dan delapan tanggul rusak pada tahun 2019.
Kondisi kerusakan jembatan tersebut didapati hampir di setiap daerah yang rawan banjir dan tanah longsor seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan, dan sebagian besar daerah di Pulau Jawa tak terkecuali Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Baca Juga: Bencana Banjir dan Tanah Longsor di Sukabumi, BNPB Sebut 10 Orang Meninggal dan Dua dalam Pencarian
Sedikitnya dilaporkan ada 47 unit jembatan, termasuk 86 ruas jalan di Kabupaten Sukabumi yang rusak akibat rentetan bencana berupa banjir, tanah longsor dan pergerakan tanah yang melanda daerah di selatan Jawa Barat itu, 3-4 November 2024.
Sementara untuk kerusakan tanggul, BNPB mendapati tak sedikit yang masih dibangun menggunakan karung berisi pasir-tanah yang ditumpuk, seperti halnya tanggul Sungai Wulan di Jalur Pantura Kabupaten Demak- Kudus, Jawa Tengah.
BNPB menilai kondisi tersebut harus menjadi perhatian khusus. Peta risiko bencana hidrometeorologi yang sudah ada juga harus dipertimbangkan dalam desain rehabilitasi dan rekonstruksi yang saat ini sedang dibahas dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur.
Penguatan infrastruktur untuk mengurangi risiko bencana banjir lahar dingin gunung berapi juga sedang menjadi perhatian serius tim ahli BNPB bersama para mitra strategisnya. Hal ini tidak lepas dari pengalaman pemerintah dalam menghadapi dampak luar biasa atas banjir lahar dingin Gunung Marapi di Sumatera Barat pada Mei 2024.
Dalam peristiwa tersebut diprakirakan oleh ahli ada 1.000 meter kubik endapan material vulkanik di bibir kawah Gunung Marapi mengalir ke bawah bersama dengan hujan deras dengan membawa serta bebatuan berdiameter 2-3 meter.
Aliran deras air bercampur material vulkanik itu dengan seketika menghantam pemukiman warga di kaki Gunung Marapi, hingga menyebabkan 67 orang meninggal dunia dan kerusakan dengan nilai kerugian mencapai milliaran rupiah di lima kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Hasil dari pemetaan tim ahli didapatkan bahwa Gunung Marapi di Sumatera Barat memiliki sebanyak 23 aliran sungai yang juga melintasi pemukiman warga. Beberapa aliran sungai itu, termasuk yang berada di Kabupaten Padang Panjang dan Tanah Datar sudah siap dipasang 20 unit perangkat alat sensor dan sirene pendeteksi ketinggian volume air.