Hikmah Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki bagi Warga Desa Pululera
- Penulis : Ulil
- Minggu, 10 November 2024 07:22 WIB

"Lewo Kakan, Lewo Arin. Kampung kakak, ya kampung adik. Artinya di sini kita harus sama-sama membantu," ungkap Paulus.
Suasana semangat untuk hidup dan menyelamatkan sesama terasa hangat, hingga mampu melupakan dinginnya udara perbukitan di kaki gunung yang relatif sejuk.
Meski hidup di tenda tanpa aliran listrik, masyarakat tetap bisa hidup berdampingan dengan guyub rukun, tanpa adanya perselisihan antara masing-masing tenda.
Budaya ketimuran yang kental akan kesukuan dan kemargaan tidak terlihat secara jelas kala mereka menempati tenda-tenda pengungsian.
Dalam satu titik lokasi kemah, tenda-tenda yang didirikan mampu menampung hingga 50 orang dari berbagai suku atau keluarga.
Hal ini terjadi karena prinsip Lewo Kakan Lewo Arin tidak hanya sekadar slogan, namun juga menjadi spirit yang diresapi dan diimplemantasikan di dalam kehidupan mereka.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Erupsi, Hembusan Abu Vulkanik Capai 5000 Meter dari Puncak
Revisi peta batas aman
PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM RI merekomendasikan kepada Badan Geologi untuk merevisi peta batas aman wilayah yang bisa digunakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki, sehingga masyarakat setempat tidak lagi perlu mengungsi setiap hari.
Upaya ini mendapat respons positif. Badan Geologi menetapkan radius zona bahaya menjadi 9 kilometer pada sektor barat daya-barat laut. Otomatis, hal ini juga berimbas kepada wilayah Desa Pululera.
Baca Juga: Romo Martin, Saksi Dahsyatnya Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Bayang-bayang Kiamat
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga mewacanakan adanya relokasi tempat tinggal warga di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki, di mana Desa Pululera akan ikut mengambil bagian.