DECEMBER 9, 2022
Kolom

Hikmah Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki bagi Warga Desa Pululera

image
Warga berlari menjauh dari erupsi dari kawah Gunung Lewotobi Laki-laki di Desa Pululera, Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.(ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)

"Kalau ada bencana, kita lari sama-sama ke utara," jelas Paulus sembari menyeruput kopi hitamnya.

Dalam upaya mempelajari mitigasi bencana, wilayah pemukiman Desa Pululera yang berbentuk relatif vertikal memudahkan masyarakat untuk memahami rute evakuasi. Hingga akhirnya, seluruh warga desa terbiasa untuk melakukan aktivitas berlari ke utara.

Kebiasaan tersebut menjadi hal yang menyelamatkan mereka dari malapetaka. Erupsi besar yang terjadi tak sampai memakan korban jiwa warga desa.

Baca Juga: Update Korban Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Sembilan Orang Meninggal, Satu Kritis dan Puluhan Luka Berat

Erupsi yang disertai muntahan batu pijar berukuran rata-rata sekepal tangan orang dewasa tersebut berhasil dihindari oleh warga dengan sigap.

Pengalaman dihujani batu yang menyala di malam hari membuat para warga menjadi lebih takut lagi dari sekadar kehilangan mata pencahariannya.

Oleh sebab itu, masyarakat mulai membangun posko pengungsian secara swadaya di wilayah bukit, di tengah hutan dan kebun mete sejauh 3-4 kilometer di utara Desa Pululera.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-laki Kembali Erupsi, Hembusan Abu Vulkanik Capai 5000 Meter dari Puncak

Lewo Kakan Lewo Arin
Kini, masyarakat hidup dengan sangat sederhana di posko pengungsian mandiri itu. Posko pengungsian yang dibangun oleh masyarakat sejatinya bukanlah posko dengan bangunan permanen.

Posko pengungsian yang dibangun secara mandiri hanya berupa tenda-tenda sederhana beratapkan terpa. Posko ini dibangun secara terpisah di beberapa titik, dengan jumlah tenda yang berbeda-beda di setiap titiknya.

Tidak kurang dari 40 tenda didirikan di lokasi pengungsian tersebut. Tak hanya membangun posko secara swadaya. Pasokan logistiknya pun mereka penuhi secara swadaya.

Baca Juga: Romo Martin, Saksi Dahsyatnya Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Bayang-bayang Kiamat

Namun demikian, seluruh masyarakat bisa hidup tenang di posko pengungsian. Sebab, masyarakat menanamkan apa yang menjadi tradisi mereka secara turun-temurun.

Halaman:
1
2
3
4
5
Sumber: Antara

Berita Terkait