Romo Martin, Saksi Dahsyatnya Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki dan Bayang-bayang Kiamat
- Penulis : Ulil
- Jumat, 08 November 2024 08:03 WIB

Juga bagi Romo Martin, hari itu adalah momen baginya untuk mempersiapkan diri menyambut awal pekan yang baru. Saat itu, ia memilih untuk bekerja hingga larut malam.
Di malam hari, hujan mulai membasahi wilayah yang berada di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki. Intensitasnya kian meningkat seiring berjalannya waktu.
Romo Martin bercerita bahwa hujan di malam hari itu merupakan sesuatu yang dirindukan oleh masyarakat setempat, sebab sudah beberapa waktu belakangan ini hujan tidak mampir di wilayah sekitarnya.
Pun demikian bagi 232 siswa dan 27 tenaga didik yang membersamai Romo Martin di Seminari San Dominggo. Banyak di antara mereka yang memaksimalkan momentum tersebut untuk beristirahat dengan nyenyak.
Baca Juga: Tim SAR Berhasil Evakuasi 9 Jenazah Korban Letusan Gunung Lewotobi Laki-laki Flores Timur
Udara dataran tinggi yang sejuk terkena hujan, bunyi gemercik air hujan yang jatuh membasahi bumi, ditambah dengan suasana bangunan dengan arsitektur Eropa yang dimiliki seminari itu rasanya menjadi kombinasi yang pas untuk mengakhiri hari dengan tenang.
Namun siapa sangka, suasananya berbalik 180 derajat, saat waktu mendekati tengah malam.
Bayang-bayang kiamat
Baca Juga: PVMBG Meningkatkan Status Aktivitas Vulkanik Gunung Iya di Ende NTT dari Waspada ke Level Siaga
Listrik padam, kilat menyambar, hingga gemuruh yang terdengar dari arah Gunung Lewotobi Laki-laki mengubah suasana damai dan temaram bangunan bernuansa kolonial tersebut menjadi ramai dan mencekam. Hingga akhirnya pada pukul 23.57 WITA, suara dentuman keras terdengar dari arah gunung berapi tersebut.
Mendengar dentuman itu, Romo Martin sejenak menghentikan jari-jemarinya kala mengetikkan kalimat demi kalimat di atas papan kunci. Tidak lama kemudian, ia menyadari ada suatu yang tidak beres.
"Blaaar", terdengar suara plafon yang runtuh. Suara itu juga diikuti suara "klutuk-klutuk". Sontak, Romo Martin bersembunyi di kolong meja, sembari sesekali mengintip apa gerangan yang terjadi.
Tidak lama kemudian, barulah ia sadar bahwa suara tersebut ditimbulkan oleh batu yang berjatuhan di atas sekolah yang memiliki luas lahan hingga 12 hektare tersebut.
Baca Juga: 10.295 Warga Terdampak Erupsi di Kawasan Kaki Gunung Lewotobi Laki-Laki Dipindahkan ke Lokasi Aman
Pada saat itulah, Romo Martin tidak menyangka bahwa dirinya akan mengalami kejadian ini dalam hidupnya. Gelap, mencekam, diselingi suara petir yang bergemuruh, serta dihujani batu berselimut api yang bergelora.