Banda Neira, Tanah Pengasingan yang Melahirkan Kebebasan
- Penulis : Ulil
- Jumat, 25 Oktober 2024 18:07 WIB

Oleh Bayu Saputra
POLITIKABC.COM - "Jangan mati sebelum ke Banda Neira,” ungkapan Sutan Sjahrir ini patut diamini. Keindahan alam Banda Neira memang tidak disangsikan lagi.
Tatkala kapal bersandar di pelabuhan, pandangan mata langsung disambut oleh keagungan Gunung Api Banda dan bentangan Benteng Belgica peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.
Baca Juga: AHY:Bung Karno, pejuang sejati, membebaskan kita dari penjajahan dan menuju kemerdekaan
Berjalan sekitar 100 meter dari pelabuhan, sebuah grafiti terpampang di tembok deretan rumah lawas bergaya arsitektur kolonial.
Grafiti itu menampilkan potret lukisan empat tokoh, yakni Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Des Alwi, dan Hamadi B. Husain.
Seolah menjadi pengingat bagi setiap pelancong bahwa di balik keindahan alam dan kekayaan rempahnya, Banda Neira punya sejarah panjang sebagai tempat perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan intelektual.
Dari pulau rempah ke jejak pengasingan
Pada masa pendudukan VOC, Banda Neira sempat menjadi magnet bagi perdagangan rempah dunia.
Kepulauan seluas 55,3 kilometer persegi itu dikenal sebagai penghasil utama pala dan cengkih.
Bahkan sampai saat ini, tradisi maritim dan agrikultur pun diwariskan secara turun-temurun oleh penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani.
Namun, bukan hanya itu yang menarik wisatawan ke Banda Neira. Pulau Banda Neira menjadi destinasi bagi mereka yang ingin menelusuri jejak sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.