DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Banda Neira, Tanah Pengasingan yang Melahirkan Kebebasan

image
Ruang tengah rumah pengasingan Sjahrir di Banda Neira. ANTARA/Bayu Saputra.tr

Oleh Bayu Saputra

POLITIKABC.COM -  "Jangan mati sebelum ke Banda Neira,” ungkapan Sutan Sjahrir ini patut diamini. Keindahan alam Banda Neira memang tidak disangsikan lagi.

Tatkala kapal bersandar di pelabuhan, pandangan mata langsung disambut oleh keagungan Gunung Api Banda dan bentangan Benteng Belgica peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

Baca Juga: AHY:Bung Karno, pejuang sejati, membebaskan kita dari penjajahan dan menuju kemerdekaan

Berjalan sekitar 100 meter dari pelabuhan, sebuah grafiti terpampang di tembok deretan rumah lawas bergaya arsitektur kolonial.

Grafiti itu menampilkan potret lukisan empat tokoh, yakni Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Des Alwi, dan Hamadi B. Husain.

Seolah menjadi pengingat bagi setiap pelancong bahwa di balik keindahan alam dan kekayaan rempahnya, Banda Neira punya sejarah panjang sebagai tempat perlawanan terhadap kolonialisme dan perjuangan intelektual.
 
Dari pulau rempah ke jejak pengasingan

Baca Juga: Kelompok Pejuang Palestina Hamas Menunjuk Yahya Sinwar sebagai Pengganti Ismail Haniyeh yang Terbunuh

Pada masa pendudukan VOC, Banda Neira sempat menjadi magnet bagi perdagangan rempah dunia.

Kepulauan seluas 55,3 kilometer persegi itu dikenal sebagai penghasil utama pala dan cengkih.

Bahkan sampai saat ini, tradisi maritim dan agrikultur pun diwariskan secara turun-temurun oleh penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Baca Juga: Pimpinan Kelompok Pejuang Hamas di Palestina Sebut Sosok Yahya Sinwar akan Membawa Peringatan Penting bagi Israel

Namun, bukan hanya itu yang menarik wisatawan ke Banda Neira. Pulau Banda Neira menjadi destinasi bagi mereka yang ingin menelusuri jejak sejarah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.

Halaman:
1
2
3
4
Sumber: Antara

Berita Terkait