DECEMBER 9, 2022
Nusantara

Mengunjungi PLTD Apung yang Bertahan dari Amukan Bencana Tsunami di Aceh

image
Para pengunjung saat belajar edukasi dan mitigasi tsunami di museum PLTD Apung, Banda Aceh, Sabtu. (ANTARA/FAJAR SATRIYO)

POLITIKABC.COM - Saat libur pertandingan cabang selancar ombak Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024, kontingen Jawa Timur Rizky Eka, kontingen Nusa Tenggara Barat (NTB) Hairel Oney, dan kontingen Nusa Tenggara Timur (NTT) Raju Sena Seran memutuskan untuk menyambangi PLTD Apung, Banda Aceh.

Berawal dari rekomendasi wisata di google, tiga peselancar ombak ini memutuskan untuk memilih PLTD Apung sebagai tujuan destinasi saat jeda kompetisi.

Selain itu, Rizky Eka mengungkapkan memang mempunyai rasa penasaran dengan sisa bangkai kapal dari bencana tsunami yang menerjang Aceh hampir 20 tahun lalu.

Baca Juga: Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono: Gempa Besar di Tunjaman Nankai Tak Ada Kaitan dengan Zona Megathrust

"Ingin melihat suasana yang beda daripada selama ini lihat pantai terus dan melihat monumen kayaknya bagus juga mumpung di Aceh," kata Rizky Eka.

Pilihan Rizky Eka, Haierl Oney, dan Raju Rana Seran jelas tak keliru. Sebab dari PLTD Apung mereka bisa belajar banyak tentang semangat resiliensi serta besarnya motivasi masyarakat Aceh untuk bangkit dari bencana dahsyat yang melanda mereka nyaris 20 tahun silam.
 
PLTD Apung saksi amuk tsunami

PLTD Apung atau yang dikenal dengan nama Kapal Apung terletak di Punge Blang Cut, Jaya Baru, Banda Aceh. Kapal Apung, yang memiliki luas 1.900 meter dan panjang mencapai 63 meter, dulunya merupakan pembangkit listrik yang mempunyai kekuatan daya mencapai 10,5 megawatt.

Baca Juga: Kasus Pengeboman Rumah Bakal Calon Gubernur Aceh Bustami Hamzah, Polisi Periksa Empat Saksi

Kapal yang mempunyai bobot 2.600 ton ini sebelumnya bersandar di Pelabuhan Ulee Lheve kemudian terseret ombak tsunami pada 26 Desember 2004 sejauh 5 km dan terdampar di jantung kota Banda Aceh, Punge Blang Cut.

Dalam catatan yang terdapat di Museum PLTD Apung, kapal yang dibuat di Batam pada 15 Oktober 1996 tersebut terseret ombak tsunami sebanyak tiga kali dalam peristiwa tsunami Aceh. Gelombang pertama dan kedua datang dari arah Ulee Lheve yang menerjang kapal saat bersandar di pelabuhan. Lalu gelombang ketiga datang dari arah Syiah Kuala yang membuat kapal PLTD Apung terhempas di komplek masjid Subulussalam.

Karena bobot yang berat, PLTD Apung tak dapat ditarik kembali menuju pelabuhan dan dibiarkan dalam perawatan. Pada 21 Juni 2010, PLN melakukan konservasi PLTD Apung dengan menjadikan salah satu museum sejarah tsunami Aceh dan tempat edukasi mitigasi bencana tsunami.

Baca Juga: Pilkada Aceh: Ismail A Jalil dan Tarmizi Panjang Jadi Paslon Tunggal yang akan Melawan Kotak Kosong

PLTD Apung yang masih mempunyai mesin listrik yang dapat digunakan, akhirnya mesin listrik berdaya 10 megawat tersebut diputuskan untuk direlokasi ke PTD Leungbata.

Halaman:
1
2
3
Sumber: Antara

Berita Terkait