DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-kunang

image
Puisi Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-kunang. (Politikabc.com/kiriman)

POLITIKABC.COM - Di tahun 1960-an, Sartika dikirim sekolah ke Bulgaria. Prahara politik di dekade itu mengubah hidupnya.

-000-

Malam di Vietnam, 1963.
Suara ledakan menghantam langit,
tanah di bawah kaki Sartika dipenuhi darah hangat.
Arus sungai tumpah dari tubuh tak bernyawa.

Baca Juga: Serukan Tagar #Kawalsampailegal, Para PRT Gelar Aksi Baca Puisi untuk Puan Maharani di Gedung DPR RI

Wajahnya memucat,
bertanya dalam diam—siapa pemilik darah ini?

Di antara pohon-pohon yang bisu,
ia melihat revolusi tak lagi berwujud kata,
tapi luka yang tak terhindarkan,
Peluru. 
Bom.
Dinamit.
Darah.

Sartika duduk,
botol kecil berisi kunang-kunang di tangannya,
cahaya mereka bergetar,
melawan kegelapan malam yang menelan segala.

Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya

Baca Juga: Catatan Denny JA: Ayah, Semoga Abu Jasadmu Sampai ke Pantai Indonesia

Di bawah nyala kunang- kunang,
ia membuka buku tentang revolusi,
namun kata-kata di sana mengalir menjadi sungai yang terpecah,
menggulung janji-janji yang kini terasa tak nyata.

Bagi Sartika,
revolusi kini bukan lagi mimpi di atas kertas,
itu adalah bara di nadi,
menghanguskan ketakutan,
memercikkan api keberanian di setiap langkah.

Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?

Agustus 1965.
Sartika kembali ke Jakarta,
revolusi makin berdenyut di dada.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait