Sunday, Apr 6, 2025
Puisi

Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?

image
Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah? (Politikabc.com/kiriman)

POLITIKABC.COM - 1965, Bung Karno jatuh. Bujana, seorang pengagum Bung Karno, pelajar Indonesia di Yugoslavia, terperangkap dalam pengasingan. Ia rindu Indonesia, tapi takut pulang.

-000-

“Kutemukan jati diri,  
setelah hilang segala."

Baca Juga: Jeritan dan Harapan Anak-anak Pekerja Migran Ilegal Asal Indonesia, Espresi Melalui Puisi Esai

“Hilang tanah air,  
masih bisa kutahan.  
Hilang kepastian hidup,  
kubuat nyaman.  
Hilang identitas,  
menusuk hati,  
mengikis perlahan jiwa yang dulu kukenal.  
Tapi hilang kabar soal Ibu,  
merobek seluruh hidupku."

Puluhan surat sudah kutulis untukmu, Ibu.  
Sampaikah?  
Mengapa tak berbalas?  
Atau mungkin,  
kau berubah menjadi kenangan yang memudar, 
hanyut di lautan waktu?  

Tapi aku masih mencarimu,  
di balik langit yang kelam,  
di antara hujan yang tak pernah henti.

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Tanah Airku dalam Lagu, Puisi, dan Lukisan

Angin mengguncang keras pohon di seberang jalan,  
ranting-ranting melambai tak menentu,  
menjadi tangan yang berusaha meraih bayangan.  

Wajah Ibu terayun di ujung ranting,  
melambai di balik kabut yang menutup masa lalu.

Hujan turun deras,  
mengguyur tubuh. 
Itu tangisan yang tak kenal henti.

Baca Juga: Puisi Denny JA: Di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola

Bujana kuyub,  
keringat dan rindu menyatu dengan air.  
20 tahun sudah berlalu,  
tanpa suara dari wanita yang mengajarkannya dunia.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait