
POLITIKABC.COM - Seorang pelajar Indonesia dikirim ke Yugoslavia di tahun 1960-an oleh Bung Karno. Karena prahara politik di dekade itu, ia tak pernah pulang.
-000-
Langit Yugoslavia, abu-abu dan bisu.
Sejarah hilang dalam bayangan.
Baca Juga: Serukan Tagar #Kawalsampailegal, Para PRT Gelar Aksi Baca Puisi untuk Puan Maharani di Gedung DPR RI
Marwan, kini 85,
punggungnya melengkung oleh beban masa lalu,
nyeri di tubuh,
patah di jiwa.
Api yang dulu menyala,
kini berpendar samar,
ditiup angin waktu yang tak kenal belas.
Dulu, Indonesia adalah bara,
dalam gelora Bung Karno,
pemuda-pemuda digiring ke mimpi besar.
Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
Marwan, salah satunya,
dikirim ke Yugoslavia,
negeri yang kala itu tegak,
dengan Presiden Tito di puncak kekuasaan,
sebuah eksperimen di simpang dunia.
Di sana, sosialisme berdiri teguh,
di bawah bendera merah,
revolusi bersinar di jalan-jalan,
membangun masa depan yang berkilau.
Namun sejarah adalah pedang bermata dua,
menggores dan menebas harapan dalam sekejap.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Bung Karno jatuh,
Marwan kehilangan pijakan,
tanah air tak lagi memanggil,
paspor dicabut,
pulang berarti menjemput kegelapan—
penjara atau kematian.