
Rindu itu menggigit,
tapi pulang hanyalah angan,
seperti mimpi yang tak pernah tergapai.
"Sejarah telah menelanku,"
gumamnya di malam-malam yang panjang.
"Aku bagian dari revolusi yang retak,
dari bangsa yang terlupakan."
Namun, dari reruntuhan itu,
Marwan mencoba bangkit.
Ia mengambil kuas,
melukis kenangan yang tersisa,
melukis Indonesia yang tak pernah kembali.
Baca Juga: Serukan Tagar #Kawalsampailegal, Para PRT Gelar Aksi Baca Puisi untuk Puan Maharani di Gedung DPR RI
Gunung-gunung, sawah yang berkabut,
senyum ibu dalam waktu yang membeku.
Setiap goresan adalah perjalanan,
sebuah upaya untuk pulang tanpa bergerak.
Lukisannya menjadi suara bagi yang tak bersuara,
cerita bagi yang tersingkir.
Karyanya sampai ke tanah air.
Anak-anak sekolah melihatnya,
melihat tanah mereka melalui mata yang terlupakan.
Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
-000-
"Inilah hadiahku," bisik Marwan,
"untuk negeri yang tak pernah menerima kepulanganku."
Dan di ujung usia,
di negeri yang jauh,
Marwan tersenyum samar.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Meski tubuhnya terjebak dalam kubangan sejarah
yang berantakan,
hatinya akhirnya menemukan jalan pulang,
melalui seni,
melalui rasa yang tak pernah mati.