Puisi Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
- Penulis : Ulil
- Sabtu, 28 September 2024 16:17 WIB

POLITIKABC.COM - Di usia senja, di Amsterdam, Sarjono rindu pulang ke Indonesia. Tapi trauma politik tahun 1960-an, lebih kuat membayang.
-000-
Dari jendela rumah, di kota
Amsterdam, kincir angin berputar, meniup langit.
Tapi angin yang sampai padanya,
membawa harum pematang sawah,
dan aroma kampung halamannya yang jauh—
Kota Malang, tempat kenangan tertinggal.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Pemulung Itu Seorang Doktor
Awan di Amsterdam menggambar pepohonan rindang,
di sepanjang jalan menuju Alun-Alun Tugu, di Kota Malang,
tempat ia pernah tertawa lepas dengan teman-teman.
Tulip yang mekar di musim semi,
di Belanda,
berubah menjadi melati putih yang mekar di beranda rumah, di Kota Malang,
melati yang dulu ia petik untuk ibu,
sebelum segalanya berubah.
Burung yang terbang di Amsterdam,
membawa nasi rawon hangat,
yang selalu ia nikmati di pagi sejuk kampung halaman.
Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
“Oh, Kota Malang,
aku tak pernah benar-benar meninggalkanmu,
tapi pulang ke sana kini terasa semakin jauh,
seperti mimpi yang tak terjangkau."
Sarjono semakin tua,
usia 85 menghantam tubuhnya,
setiap hari adalah pertarungan melawan rindu
yang tak pernah terobati.
-000-
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Pagi itu, masa lalu menyeretnya kembali.
Tahun 1960-an, awalnya berwarna cerah, berubah hitam.