
-000-
Ia terdampar di negeri yang dulu memberinya naungan,
tapi Yugoslavia pun pecah,
seperti kaca yang retak di tanah keras.
Di Sarajevo, tembok-tembok bicara dengan luka,
pintu-pintu tertutup oleh peluru dan api.
Baca Juga: Serukan Tagar #Kawalsampailegal, Para PRT Gelar Aksi Baca Puisi untuk Puan Maharani di Gedung DPR RI
Negeri yang teguh kini terbelah,
dibakar kebencian,
dihancurkan perang saudara,
perbedaan adalah dosa
yang ditukar dengan nyawa.
Marwan menyaksikan semuanya,
dari jendela apartemen kecil.
Di sini, tak ada surga yang dijanjikan.
Ia melihat tetangga menjadi musuh,
sungai menjadi kuburan,
dan tawa anak-anak berubah menjadi tangis.
Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
Ia hidup di antara reruntuhan,
terjebak dalam sejarah yang tak mengenal maaf,
tak bisa pulang,
tak bisa maju.
-000-
Namun, di tengah segalanya,
rindunya pada Indonesia tetap menyala,
meski perlahan padam dimakan waktu.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Ia ingat Sukabumi—
tanah basah selepas hujan,
Gunung Gede menjulang di kejauhan,
peuyeum hangat dari pasar,
suara jangkrik di malam yang lengang.