DECEMBER 9, 2022
Olahraga

Pecinta PSSI, Wahyu Sutono Sampaikan Surat Terbuka Untuk Peter Frans Gontha

image
Peter F Gontha ( ANTARA FOTO/ Teresia May)

6. Apakah mereka mau membuang tunjangan sosial mereka di negaranya begitu saja?

Jawaban Saudara rasanya tidak. 

Itu memang berat. Tapi, mereka berani lakukan ini semua tentunya sudah dipikirkan sangat matang dengan segala risikonya. Selain itu, penghasilan mereka sebagai pemain profesional tidak akan dihamburkan begitu saja agar tidak bergantung pada tunjangan sosial. Selain faktor lainnya yang kita tidak tahu.

Baca Juga: Dapat Lampu Hijau dari Jokowi, Zainudin Amali Diizinkan Fokus di PSSI

Karenanya saya justru mengapresiasi dan menghargai risiko besar yang mereka ambil. Lagipula semua keputusan itu kan memang mengandung risiko. Seperti yang Saudara katakan pada awal kalimat bahwa sikap Saudara berisiko, walau dampaknya mungkin hanya sekadar dirujak warganet se-Indonesia.

7. Apakah menurut Anda tidak lebih baik membina pemain kita dari muda (SD s/d dewasa)?

Jawaban Saudara: "Saya rasa demikian."

Baca Juga: Wapres Ma'ruf Beberkan Kenapa Menpora Mundur Usai Terpilih Waketum PSSI

Tepatnya begini. Selain jawaban saya seperti yang di poin 3, semua insan sepak bola melihat ada pembinaan dari sejak SSB, hingga kompetisi kelompok umur, yang kemudian menghasilkan timnas untuk U-16, U-17, U-19, U-20 dan U-23. Saat ini pun masih terus berjalan sesuai cetak biru yang disusun PSSI terkini bersama FIFA, termasuk pembenahan wasit, stadion, lapangan TC, dan sebagainya.

Bahkan kompetisi untuk perempuan akan dihidupkan kembali pada 2025 esok, pasca kompetisi Galanita dibubarkan hingga Timnas Putri Indonesia terlalu lama tertidur dan sulit berprestasi, bahkan untuk sekelas ASEAN pun.

Persoalan sepak bola Indonesia itu kompleks. Dari kompetisi yang di ASEAN saja belum bisa menjadi yang terbaik. Lalu persoalan mental pemain, kurang cepatnya memahami taktik kendati memiliki skill ball yang sangat baik, kualitas wasit yang belum membanggakan, kualitas rumput yang mengkhawatirkan, dan berbagai persoalan lain di dalamnya, termasuk mafia bola yang tidak mudah diberantasnya.

Baca Juga: Menpora Pekan Depan Undang PSSI, Pembahasan Piala Dunia U-17 Di indonesia

8. Apakah tidak lebih baik kalah dengan terhormat daripada menang atau seri dengan cara yang merendahkan martabat bangsa?

Halaman:
1
2
3
4
5

Berita Terkait