Pecinta PSSI, Wahyu Sutono Sampaikan Surat Terbuka Untuk Peter Frans Gontha
- Penulis : Ulil
- Rabu, 18 September 2024 10:27 WIB

Saya dan semua yang biasa nonton di Gelora Bung Karno (GBK) beserta jutaan insan sepak bola nasional tentu saja cinta. Kalau pun pernah sebal, itu bukan ke PSSI-nya, tapi dulu ke beberapa oknum pengurusnya.
2. Apakah Anda cinta bangsa?
Seperti Saudara, saya dan jutaan masyarakat Indonesia tentu saja cinta NKRI, kecuali bila mereka itu penghianat, termasuk para koruptor dan tentu saja yang tergabung separatisme.
Baca Juga: Dapat Lampu Hijau dari Jokowi, Zainudin Amali Diizinkan Fokus di PSSI
3. Apakah Anda tidak malu lihat PSSI 9 pemainnya adalah bangsa asing yang dinaturalisasi? (Saya malu)
Bila Anda malu, itu urusan Anda. Karenanya agar tak malu, coba lakukan sesuatu yang bisa ikut membangun PSSI dengan cara bertindak, dus bukan menciptakan opini yang keliru.
Sedangkan saya dan semua yang biasa nonton di GBK beserta jutaan insan sepak bola yang biasa nobar atau nonton lewat layar kaca sama sekali tidak malu, bahkan bangga dan gembira.
Baca Juga: Wapres Ma'ruf Beberkan Kenapa Menpora Mundur Usai Terpilih Waketum PSSI
Karena kami tahu bahwa program naturalisasi ini hanya bersifat sementara, alias program jangka pendek, sambil menunggu pembenahan persepakbolaan Indonesia menuju ke arah yang benar-benar profesional dan berprestasi.
Pembenahan itu bukan seperti sulap yang bisa sehari dua hari beres. Tapi butuh waktu panjang hingga tercapai sebuah industri sepak bola modern yang bisa menghasilkan banyak pemain berkualitas untuk Timnas Indonesia.
Lagipula basi bila masih bicara dikotomi pemain lokal dan naturalisasi. Ini sudah dibahas orang sejak lama, karena naturalisasi memang sudah ada sejak era kepengurusan PSSI sebelumnya. Jadi Saudara kesiangan bila baru bicara saat ini, disaat euforia sepak bola kembali bergairah karena lolos hingga Ronde-3.
Baca Juga: Menpora Pekan Depan Undang PSSI, Pembahasan Piala Dunia U-17 Di indonesia
"Jangan lupa bahwa di era globalisasi ini, jadi hal yang umum di dunia, lagipula semua sudah diatur dalam statuta FIFA. Itu pun dilakukan negara tetangga kita, termasuk Australia yang menggunakan 12 pemain naturalisasi yang 9 diantaranya tak berdarah Australia. Bahkan Prancis saat juara dunia pun pemainnya tidak semua berdarah asli Prancis. Tapi negara lain tak ada yang ribut. Jadi hanya di Indonesia saja yang brisik sekali menyoal naturalisasi."