DECEMBER 9, 2022
Nusantara

Badan Keamanan Laut Jemput Para Nelayan yang Terjebak di Kawasan Malaysia akibat Mesin Rusak

image
Kapal nelayan saat ditarik KN Tanjung Datu dari perbatasan Indonesia-Malaysia. (ANTARA/Muhamad Nurman)

Ketiga unit kapal berbanjar rapi, di mana jarak kapal pertama dari KN Tanjung Datu sekitar 50 meter, untuk dua lainnya sekitar 25 meter dari kapal pertama. Diberinya jarak agar kapal nelayan tidak rusak akibat gelombang yang ditimbulkan dari propeller (kipas) KN Tanjung Datu.

Awalnya, kapal nelayan direncanakan diletakkan di atas KN Tanjung Datu, dan sebelumnya sudah dilakukan simulasi mengangkat kapal nelayan ke atas KN Tanjung Datu di perairan Natuna pada Kamis 8 Agustus dengan menggunakan kapal nelayan setempat. Namun opsi ini dibatalkan sebab dinilai berisiko tinggi, terhadap kapal nelayan itu sendiri.

"Kita sudah membuat dua opsi, yang pertama kapal nelayan kita angkat ke atas KN Tanjung Datu, yang kedua kita tarik atau towing, dan setelah kita lakukan simulasi serta evaluasi, towing menjadi alternatif terbaik," ucap Komandan KN Tanjung Datu Kolonel Bakamla, Rudi Endratmoko.

Baca Juga: Melaut hingga Australia, Konsul RI di Darwin Sebut Pemulangan 15 Nelayan asal Merauke Tunggu Kelengkapan Dokumen

Pemulangan nelayan

Selesai tali dipasang, asap hitam dari kedua cerobong asap mengepul, air laut di belakang buritan juga terlihat beriak, petanda KN Tanjung Datu akan berlayar kembali ke Natuna. Mesin yang pada pelayaran penjemputan terdengar garang, tidak pada pelayaran kembali, sebab kecepatan diturunkan guna meminimalisir risiko rusak nya kapal nelayan yang ada di belakang.

Setelah kurang lebih 11 jam mengarungi lautan, lima orang dan dua unit kapal nelayan dipulangkan di Kecamatan Subi. Mereka  dijemput oleh Pemerintah Kecamatan setempat di perairan Subi. Wajah bahagia terpancar di wajah para nelayan, dan sanak saudaranya yang turut menjemput.

Baca Juga: Nasib 15 Nelayan asal Merauke yang Melaut hingga Australia: Menunggu Kabar dari KJRI di Darwin

Ucapan terima kasih terdengar kembali, baik dari pemerintah setempat, keluarga nelayan serta nelayan itu sendiri. Penandatangan serah terima pun dilakukan di atas KN Tanjung Datu, namun hanya dari Dinas Perikanan Kabupaten Natuna dengan Pemerintah Kecamatan saja. Sebab, untuk penyerahan dari Bakamla ke Pemerintah Kabupaten Natuna akan diselenggarakan pada Minggu pagi di Dermaga Paslabuh TNI AL Selat Lampa.

Usai menandatangani berkas, Camat Subi berpamitan dan membawa warganya pulang ke kampung halaman. KN Tanjung Datu juga kembali melanjutkan pelayaran yang diperkirakan akan membutuhkan waktu 11 jam. Tepat pada Minggu 11 Agustus pukul 06.00 pagi, kapal berhenti menunggu keputusan apakah diperbolehkan untuk sandar di dermaga yang terlihat jelas dari atas KN Tanjung Datu.

Setelah beberapa menit menunggu, KN Tanjung Datu kembali bergerak merapat dan kemudian dilanjutkan dengan proses serah terima. Sebelum itu dilakukan para nelayan dan perwakilan keluarga diminta untuk duduk du kursi yang disediakan guna mendengarkan beberapa wejangan dari Komandan KN Tanjung Datu dan Pemkab Natuna, agar kejadian serupa tidak berulang.

Baca Juga: Buat Nelayan, Waspada Potensi Gelombang Tinggi di kawasan Samudera Hindia hingga 2,5 Meter

Perwakilan nelayan juga diberikan kesempatan berbicara dan mengungkapkan kondisi yang mereka hadapi selama di negeri jiran. Delapan nelayan yang dipulangkan berjanji tidak mengulanginya dan mengaku jera, sebab mental mereka tertekan, meski jajaran otoritas Malaysia tidak pernah memukul para nelayan.***
 

Halaman:
1
2
3
Sumber: Antara

Berita Terkait