DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Mengenal Drama Berjudul Menunggu Godot, Karya Samuel Beckett, tentang Tokoh yang Tak Pernah Muncul di Panggung

image
Pelakon Teater Republik tampil mementaskan naskah Menunggu Godot karya Samuel Beckett pada Festival Teater Jambi 2024 di Teater Arena Taman Budaya Jambi, Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/rwa.

Undang-undang No 19 Tahun 2019 hasil persekongkolan eksekutif dan legislatif, meletakkan KPK di bawah rumpun eksekutif.

Godot yang ditunggu, tidak juga datang. Keteladanan tokoh -- yang ditunggu dan dirindukan -- telah berubah menjadi kisah masa lalu, kisah pelipur lara.

Tidak ada lagi tokoh yang memiliki integritas moral sehebat mantan Kepala Kepolisian Jenderal Hoegeng Iman Santoso, mantan Jaksa Agung Baharuddin Lopa, politisi dan mantan menteri sederhana  Mohammad Natsir, apalagi sekelas mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta yang rela meninggalkan kursi kekuasaan, dan keikhlasan mantan Presiden BJ Habibie yang menolak kembali dicalonkan sebagai Presiden.

Baca Juga: Sekjen Satupena Satrio Arismunandar: Sastra Bisa Memberikan Suara Kepada Mereka yang Terpinggirkan

Bagi mereka yang cacat moral, etika, dan akal sehat, tokoh-tokoh besar tersebut tidak berarti apa-apa, tidak mempengaruhi perilaku mereka, apalagi menjadi contoh.

Wajah bangsa ini seperti seseorang berkaca di cermin pecah, sulit untuk berhias, absurd, bahkan dapat pula menakutkan.

Godot yang diharapkan membawa kebaikan dan perubahan tidak juga kunjung datang.

Baca Juga: Diskusi Menulis yang Berdampak, Satupena akan Undang Sastrawan Okky Madasari Jadi Pembicara 

Jika sastrawan Samuel Beckett menulis naskah Menunggu Godot hanya dua babak, maka rakyat negara ini menulis drama hidup dan penantiannya jauh lebih lama, berbabak-babak, puluhan tahun. Jadi, masih perlukah kita terus menunggu Godot?

Atau, jangan-jangan karakter Lucky dalam naskah drama ini, sindiran untuk kita. Lucky seorang budak dari majikannya, Pozzo, yang kejam.

Lehernya diikat, dipaksa membawa beban dan sering pula dicambuk. Meski diperlakukan tidak manusiawi, Lucky tidak ingin meninggalkan majikannya. Dia ingin menunjukkan sebagai budak yang baik, tangguh, dan tidak mengeluh -- seolah ini adalah nasib yang harus dijalani dengan senang hati.***

Baca Juga: Diskusi Satupena, Sastrawan Okky Madasari Sebut Fiksi Bisa Terinspirasi dari Kejadian Nyata, Penulis Harus Meramu Imajinasi

*) Asro Kamal Rokan adalah Pemimpin Redaksi Harian Republika (2003-2005); Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN Antara (2005-2007).

Halaman:
1
2
3
Sumber: ANTARA

Berita Terkait