DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Mengenal Drama Berjudul Menunggu Godot, Karya Samuel Beckett, tentang Tokoh yang Tak Pernah Muncul di Panggung

image
Pelakon Teater Republik tampil mementaskan naskah Menunggu Godot karya Samuel Beckett pada Festival Teater Jambi 2024 di Teater Arena Taman Budaya Jambi, Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/rwa.

Oleh Asro Kamal Rokan

POLITIKABC.COM - Menunggu Godot (Waiting for Godot) adalah drama karya Samuel Beckett, sastrawan besar dunia asal Irlandia, penerima Nobel Sastra pada 1969.

Drama Menunggu Godot pertama kali dipentaskan di London pada 1955. Hingga kini, naskah tersebut populer, sering dipentaskan, termasuk di Indonesia, dan didiskusikan di berbagai belahan dunia. Drama ini unik, penuh tafsir, dan absurd.

Baca Juga: Sekjen Satupena Satrio Arismunandar: Sastra Bisa Memberikan Suara Kepada Mereka yang Terpinggirkan

Tokoh Godot tidak pernah muncul di panggung secara fisik. Hanya namanya yang disebut dalam percakapan antarpelakon -- sosok yang tidak jelas, namun tetap ditunggu.

Para kritikus drama membuat beragam kesimpulan, di antaranya bahwa Godot adalah simbol kebaikan, kesejahteraan, harapan keadilan bagi kaum tertindas, hadirnya negara membela rakyat dari kekejaman, dari penderitaan, dari kesewenang-wenangan. Tapi Godot bisa pula dipahami sebaliknya, ironi dan misterius.

Drama ini dibuka dalam ruang yang dominan kosong, hanya ada pohon dan gundukan tanah. Suasana terkesan ada di sebuah jalan pedesaan dengan cahaya redup.

Baca Juga: Diskusi Menulis yang Berdampak, Satupena akan Undang Sastrawan Okky Madasari Jadi Pembicara 

Di panggung  ada dua lelaki yang tidak jelas latar belakangnya. Namun dari dialog dan penampilan,  dia adalah Vladimir yang dikesankan sebagai sosok intelektual, filsuf, dan selalu menjaga penampilan. Kontras dengan sosok Estragon, yang pesimistis, tanpa harapan, kecuali baginya makan dan tidur nyenyak lebih penting.

Keduanya menunggu Godot, sosok yang tidak mereka kenal. Selama menunggu, mereka berdebat dan bertengkar tentang berbagai hal, tanpa topik jelas.

Ketika Pozzo masuk, mereka menduga inilah Godot yang mereka tunggu. Ternyata bukan. Pozzo datang bersama budaknya bernama Lucky. Sosok Pozzo digambarkan sebagai majikan kejam. Leher Lucky diikatnya dengan tali dan berkali-kali dicambuknya. Namun, meski diperlakukan kejam, Lucky tidak meninggalkan Pozzo.

Baca Juga: Diskusi Satupena, Sastrawan Okky Madasari Sebut Fiksi Bisa Terinspirasi dari Kejadian Nyata, Penulis Harus Meramu Imajinasi

Sampai drama berakhir, Godot yang ditunggu tidak kunjung datang.

Halaman:
1
2
3
Sumber: ANTARA

Berita Terkait