DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Mengenal Drama Berjudul Menunggu Godot, Karya Samuel Beckett, tentang Tokoh yang Tak Pernah Muncul di Panggung

image
Pelakon Teater Republik tampil mementaskan naskah Menunggu Godot karya Samuel Beckett pada Festival Teater Jambi 2024 di Teater Arena Taman Budaya Jambi, Jambi. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/rwa.

Berbagai karakter dalam drama ini serasa mewakili masyarakat yang menunggu sesuatu yang tidak jelas dan absurd. Dalam konteks Indonesia, Godot dapat pula ditafsirkan menunggu sesuatu yang lebih baik.

Ketika Reformasi 1998 terjadi, muncul harapan besar; yakni reformasi sebagai pintu gerbang memasuki masa depan Indonesia yang lebih baik. Rakyat menjadi sejahtera dan berdaulat.

Sumber daya alam yang melimpah sepenuhnya untuk kemakmuran rakyat, tidak lagi dibajak para koruptor yang menghisap.

Baca Juga: Sekjen Satupena Satrio Arismunandar: Sastra Bisa Memberikan Suara Kepada Mereka yang Terpinggirkan

Reformasi lahir karena dipicu oleh masifnya korupsi, kolusi, dan nepotisme pada era Orde Baru.

Reformasi muncul dengan cita-cita besar, yakni Indonesia bebas korupsi, bebas penindasan, dan terbebas dari kemiskinan.

Cita-cita besar itu diperjuangkan mahasiswa, para aktifis, dan gerakan masyarakat sipil. Dalam perjuangan itu, tidak sedikit korban berjatuhan.

Baca Juga: Diskusi Menulis yang Berdampak, Satupena akan Undang Sastrawan Okky Madasari Jadi Pembicara 

Kini, apa yang terjadi? Situasi berbalik arah. Korupsi merajalela dan terjadi hampir di semua lini. Keadilan terasa hanya untuk mereka yang kuat dan memiliki uang banyak. Hukum dan kasus-kasus korupsi menjadi alat menyandera lawan-lawan politik.

Tanah-tanah rakyat diambil dengan berbagai alasan. Partai-partai politik yang diharap memperjuangkan rakyat dan demokrasi, berubah menjadi instrumen kekuasaan.

Reformasi 1998 sukses memisahkan secara tegas wilayah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Namun setelah itu, batas-batas tegas tersebut menjadi kabur.

Baca Juga: Diskusi Satupena, Sastrawan Okky Madasari Sebut Fiksi Bisa Terinspirasi dari Kejadian Nyata, Penulis Harus Meramu Imajinasi

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang merupakan buah dari gerakan reformasi dan semula sangat dibanggakan karena independensinya, kini tidak lebih baik dari institusi penegak hukum lainnya.

Halaman:
1
2
3
Sumber: ANTARA

Berita Terkait