DECEMBER 9, 2022
Kolom

Mengenal Lebih Dekat Sosok Tan Malaka, Sosok Bapak Republik yang Menginginkan Merdeka 100 Persen Tanpa Kompromi

image
Anggota organisasi kemasyarakatan berziarah ke makam pahlawan nasional Tan Malaka di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/YU

POLITIKABC.COM - Meresapi pemikiran Ibrahim Gelar Datuk Sutan Malaka atau Tan Malaka seperti berkaca pada cermin retak, memunculkan mozaik gagasan yang membingungkan, mencengangkan, dan berbahaya.

Dalam sejarah Indonesia, Tan Malaka berdiri di antara kekaguman dan kontroversi. Gagasan dan idealismenya, seperti yang dituangkan dalam Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) dan Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika), pernah dilarang di negeri sendiri.

Banyak yang mengibaratkan sosok Tan Malaka sebagai Che Guevara-nya Indonesia karena sama-sama merupakan sosok revolusi yang ikonik.

Baca Juga: Puisi Esai: Memilih Tak Menikah Sambil Memelihara Kucing atau Anjing, hingga Kisah Koruptor di Makam Pahlawan

Dalam Naar de Republiek Indonesia, Tan menggagas republik sebagai pemerintahan ideal yang dipimpin rakyat tanpa diskriminasi.

Konsep ini lahir jauh sebelum Sukarno, Hatta, dan tokoh lain mencetuskan proklamasi kemerdekaan. Tan menginginkan kemerdekaan 100 persen tanpa kompromi, berbeda dengan Sukarno-Hatta yang memilih diplomasi.

Tan Malaka menghubungkan kemerdekaan politik dengan transformasi sosial dan ekonomi. Dalam Madilog, ia menawarkan pendekatan rasional untuk memecahkan persoalan masyarakat, dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai senjata melawan ketidakadilan.

Baca Juga: Sejarah dan Makna Penting Peringatan Hari Tani Nasional di Indonesia: Sebuah Upaya Menghargai Pahlawan Pangan

Meski begitu, keterkaitannya dengan Marxisme membuatnya dianggap berbahaya, terutama di era Orde Baru, sehingga buku-bukunya dilarang bersama karya Karl Marx dan Lenin.

Namun, pemikiran Tan melampaui komunisme. Madilog misalnya, adalah karya yang sangat berorientasi pada rasionalitas, mengajarkan cara berpikir kritis dan ilmiah kepada masyarakat.

Sebagai magnum opus Tan Malaka, Madilog, juga menyajikan pemikiran yang relevan jika dikaitkan dengan berbagai macam diskursus termasuk tentang kemiskinan yang depresif.

Baca Juga: Upaya Menjadikan Gus Dur Sebagai Pahlawan Nasional, Cak Imin: Pemulihan Nama Baik Bisa Memberi Kekuatan

Ia menuliskan di antaranya: “Si lapar yang kurus kering tak akan bisa kita kenyangkan dengan kata kenyang saja walaupun kita ulangi 1001 kali.”

Halaman:
1
2
3
4
Sumber: ANTARA

Berita Terkait