Puisi Denny JA: Aktivis Ideologi Itu Memilih Menjadi Dokter
- Penulis : Ulil
- Selasa, 08 Oktober 2024 08:37 WIB

Di Pyongyang, ia berbicara dengan api,
dalam pidato yang menggema,
setiap kata adalah peluru,
menembus malam dengan harapan baru.
Namun yang tersisa hanya debu di ingatan.
Gunarto mengingat awal perjalanan.
Bung Karno mengirimnya jauh, sekolah ke luar negeri,
memetik cahaya dari negeri asing,
membangun harapan di tanah air.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
Namun Bung Karno runtuh.
Raksasa membakar langit,
menghancurkan naga yang dulu terbang gagah di angkasa.
Di tengah kobaran api itu, Gunarto terbakar pula,
paspor dicabut,
identitasnya ditiadakan.
Ia menjadi bayang yang hilang,
warga tanpa negara, melayang-layang tanpa tanah,
terasing dalam sunyi yang menua bersama waktu.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Tak Kutemukan Surga di Sana
Tahun pertama Bung Karno jatuh, Gunarto berteriak melawan,
seperti badai yang memecah laut dengan riak gelombang.
Ia kerahkan jiwa, gemakan kata, berharap revolusi meledak.
Namun jeritan itu terserap bumi yang bisu,
meresap ke dalam tanah tanpa bekas,
dan akhirnya, hanya sunyi yang tersisa,
seperti abu yang bertebaran di angin tak tentu arah.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-kunang
Di Moskow, lorong-lorong retorika menelannya,
suara lantang yang ia ucapkan terasa kosong,
gemanya tak menjangkau hati yang ia tuju,
hanya bergaung di dinding asing,
menghilang seperti bayangan yang kabur.