
Dulu, Rahman adalah seniman,
namun ideologi merampas jiwanya,
mencuri warnanya,
menjadikannya alat tanpa ruh.
Kini, di ambang waktu,
ia ingin kembali melukis matahari
yang tenggelam di Tangkuban Perahu,
menulis tentang pasar Bandung yang penuh kehidupan.
Bukan demi revolusi,
tapi demi cinta yang tak pernah padam,
demi kedamaian yang hilang.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Negaraku Hilang, Kekasihku Sirna
Rahman tahu,
tak ada jalan pulang.
Tanah airnya tak lagi mengenali wajahnya,
dan dunia yang pernah ia warnai
telah berlalu tanpa menoleh.
Namun ia tak lagi mengejar bayangan.
Yang ia dambakan hanya jejak yang tersisa:
bukan sebagai roda ideologi yang keras,
tapi sebagai insan yang menitipkan cinta,
melalui puisi selembut angin,
melalui lukisan yang berbisik dalam diam.
Ia ingin kuasnya dikenang,
bait puisinya mewarnai hidup,
meskipun waktu akan memudarkan segalanya.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Kincir Angin Tak Bisa Menahan Rinduku
Rahman sepenuhnya menyadari.
Hidupnya akan pudar seperti warna di kanvas usang.
Namun ia titipkan cahaya kecil dalam setiap garis lukisan,
dan bait puisi.
Ketika ia tak lagi ada, kenangan atasnya tetap mengalir,
bukan sebagai suara lantang
revolusi,
melainkan bisikan lembut
seorang seniman yang
menghidupi cinta.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Kulihat Raksasa Itu Tumbang
Jakarta 7 Oktober 2024 ***