
POLITIKABC.COM - Akibat gejolak politik tahun 1960-an, ia hanya bisa mencari nafkah sebagai pemulung. Padahal ia seorang doktor, ekonom lulusan Rusia.
-000-
"Hidupku buku yang koyak.
Setiap lembar penuh luka,"
kata Wira.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Tanah Airku dalam Lagu, Puisi, dan Lukisan
Ia doktor ekonomi,
lulusan universitas terkemuka di Rusia.
Kini menjadi pemulung sampah.
Apa daya.
Hanya itu yang tersedia.1
Lihatlah tangan Wira.
Dulu, tangan itu untuk menulis teori ilmu pengetahuan.
Kini, tangan yang sama mengais sisa-sisa makanan,
botol bekas, plastik,
di antara tumpukan kotoran.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola
Prahara politik menendangnya.
Keras sekali.
Menjerat lehernya.
Sakit sekali.
Ia sekejap berubah,
menjadi bukan siapa-siapa.
Bukan lagi cendekiawan.
Bukan pula elit terpelajar.
Tahun 1973,
ketika pulang dari Rusia,
ia datang dengan seribu kunang-kunang menyala di hati.
Di langit, dilihatnya pabrik,
sekolah, dan laboratorium tergantung-gantung,
menanti sentuhan tangannya.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Pesan yang Dibawa Seekor Burung yang Hinggap di Pundakku
Yang terjadi sebaliknya.
Ia langsung dijemput aparat.
Bandara ternyata bukan gerbang pulang,
tapi penjara tanpa jeruji.