DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Denny JA: Di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola

image
Puisi Denny JA di Kereta Itu, Tak Ditemukannya Sepasang Mata Bola. (Politikabc.com/kiriman)

(Selesai aksi protes mahasiswa dan civil society atas RUU Pilkada dan masa depan demokrasi, Agustus 2024, seorang pengusaha yang dulunya aktivis, rindu suasana perjuangan)

POLITIKABC.COM - Di kereta api menuju Jogjakarta,
sia-sia ia cari sepasang mata bola.

Hidup memang memberinya singasana.
Sepatu dari emas.
Kacamata ditaburi berlian.
Tapi hatinya tetap seorang aktivis.
Rindu gelora.
Tersentuh pekik perjuangan.

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Belajar Keberagaman dari Sayyidina Ali

Kereta melaju.
Dalam hening, ia mendengar kembali lagu itu:

“Hampir malam di Jogja.
Ketika keretaku tiba.
Remang-remang cuaca.
Terkejut aku tiba-tiba.

Dua mata memandang.
Seakan-akan ia berkata.
Lindungi aku pahlawan.
Daripada si angkara murka.

Baca Juga: Pameran 10 Lukisan Denny JA tentang Paus Fransiskus Membasuh Kaki Rakyat Indonesia Dihadiri Kalangan Duta Besar

Sepasang mata bola.
Dari balik jendela.”1

Gelora aktivisnya meledak.
Dari jendela kereta, dipandangnya gedung dan pohon.
Tapi dibayangkannya suasana tahun 1945.
Orang-orang bergerak di jalan, bawa bambu runcing,
bersemangat,
pekik merdeka atau mati.

Ujarnya, “aku napak tilas ke Jogjakarta, di rel kereta yang dulu
membawa Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman.”

Baca Juga: 3 Lukisan Artificial Intelligence Denny JA: Paus Fransiskus Tiba di Jakarta dan Spirit Keberagaman

Dibayangkannya bom meledak.
Serdadu Jepang berkeliaran di kereta.

Halaman:
1
2

Berita Terkait