Respons Husein Muhammad atas Esai Denny JA Soal Kurban Hewan di Era Animal Rights: Simbol Solidaritas Sosial
- Penulis : Ulil
- Selasa, 06 Agustus 2024 09:34 WIB

Transformasi Tradisi dan Kontekstualisasi
Peristiwa ini pada mulanya merupakan tradisi masyarakat pagan. Demi meraih kebahagiaan diri, para pemuka adat Arabia pra-Islam, dengan mengatasnamakan Tuhan, melakukan penyembelihan anak manusia, konon, sebagai bentuk pengorbanan diri atau persembahan untuk Tuhan.
Cara dan tindakan seperti ini secara akal sehat justru merupakan sebuah pelanggaran bahkan kejahatan kemanusiaan berat.
Kejahatan kemanusiaan model ini harus dihentikan. Tanpa menghilangkan tradisi berkorban itu, Allah SWT, melalui Nabi Ibrahim dan Ismail, menyerukan praktik pengorbanan tersebut diganti dengan penyembelihan hewan yang memberi manfaat bagi kesejahteraan sosial.
Seorang penafsir modern (Rasyid Ridha) menyatakan bahwa ibadah kurban melambangkan perjuangan kebenaran yang menuntut tingkat kesabaran, ketabahan dan pengorbanan yang tinggi.
Maka kurban dalam Haji merupakan simbol untuk perjuangan manusia mewujudkan solidaritas sosial-ekonomi demi kesejahteraan bersama.
Betapa menariknya manakala Allah menyatakan dengan jelas tentang komitmen kemanusiaan ini:
وَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا القَانِعَ وَالْمُعْتَر. كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menjinakkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur.” (Q.S. al-Hajj, [22]: 36).
Baca Juga: Menyelam ke Dalam Diri: Pengantar Buku 71 Lukisan Tentang Renungan Jalaluddin Rumi dari Denny JA
Pandangan ini mengajak kita untuk menaruh perhatian yang tinggi kepada dimensi moral dan perjuangan kemanusiaan terutama terhadap orang-orang yang lemah secara ekonomi. Dan semua harus terus diperjuangkan bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan sosial.