Merawat Jalan Kebudayaan di Kampung Jambuan Jember, Ajarkan Anak-anak Tentang Kearifan Lokal
- Penulis : Ulil
- Senin, 22 Juli 2024 10:14 WIB

Keberadaan sesajen tersebut bukan dimaksudkan memberi makan makhluk penunggu, namun membawa makna agar manusia selalu mengingat pentingnya membangun hubungan harmonis dengan lingkungan alam, makhluk hidup yang lain, dan Tuhan Yang Maha Penyayang.
Nyambhengih dan Rokat Sombher merupakan kegiatan konservasi berbasis budaya yang bercirikan relasi harmonis manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Mata air adalah kekuatan alam yang membersamai warga Kampung Jambuan dari dulu hingga kini, sehingga anak-anak dan warga diajak melakukan tindakan-tindakan positif, seperti ritual, membersihkan sampah, dan menanam pohon di sekitar mata air.
Baca Juga: Zainudin Amali mundur, Jokowi menunjuk Koordinator Pembangunan dan Kebudayaan
Sementara Ketua Umum Dewan Kesenian Jember Eko Suwargono mengatakan anak-anak adalah generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan di Kampung Jambuan dan perlu menumbuhkan rasa kecintaan terhadap lingkungan dan budaya.
Sejak dini anak harus dikenalkan dengan kecintaan terhadap lingkungan, khususnya mata air yang berada di lingkungan kampung setempat. Ketika kecintaan itu sudah muncul, maka anak-anak akan terus berpartisipasi dalam merawat mata air sebagai sumber kehidupan masyarakat.
Selain Nyambhengih dan Rokat Sombher, juga dilaksanakan kegiatan Jambuan Bertutur yang digelar Senin (22/7) dan dibuka dengan pertunjukan mamaca (macapat versi Madura).
Selanjutnya sesepuh dan warga Kampung Jambuan akan bercerita bagaimana ragam kisah masa lalu, dari yang epik, lucu, horor, hingga magis.
Dari kisah masa lalu itu, anak-anak dan masyarakat diajak melihat perjalanan Kampung Jambuan dengan bermacam dinamikanya. Harapannya, ketika melihat masa kini akan muncul refleksi terkait bagaimana sebaiknya warga memosisikan kawasan Jambuan sebagai ruang hidup dengan karakteristik budayanya.
Permainan tradisional
Anak-anak dan ibu-ibu di Kampung Jambuan riang gembira mengikuti permainan rakyat yang digelar di kawasan rumpun bambu. Mereka juga memainkan permainan tradisional, seperti gobak sodor, sedangkan ibu-ibu bermain Nyo'on Ghaddheng (membawa tampah di kepala).