DECEMBER 9, 2022
Humaniora

Merawat Jalan Kebudayaan di Kampung Jambuan Jember, Ajarkan Anak-anak Tentang Kearifan Lokal

image
Kegiatan Rokat Sombher yang dilakukan warga di Kampung Jambuan, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Minggu (21/7/2024) (ANTARA/HO-Panitia Purnama di Jambuan)

POLITKABC.COM -  Cuaca cukup cerah pada Minggu 21 Juli pagi, terlihat lebih dari 10 anak berkumpul di depan sebuah rumah di kawasan rumpun bambu di Kampung Jambuan, Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Anak-anak di kampung itu begitu antusias mengikuti kegiatan "Nyambhengih Sombher" (meninjau mata air) yang menjadi pembuka kegiatan multibentuk tahunan "Purnama di Jambuan" yang diselenggarakan secara gotong-royong oleh Dewan Kesenian Jember (DeKaJe), Derap Kebudayaan Jember (Rakuber), dan Pusat Kajian Pemajuan Kebudayaan (Pusakajaya) Universitas Jember bersama seniman rakyat dan warga Jambuan.

Purnama Jambuan merupakan kegiatan yang dilaksanakan sejak 2022 itu memadukan kepentingan mempertahankan kebudayaan dan kearifan lokal.  Kawasan subur dari komunitas Suku Madura di pinggir pusat kota Jember beserta karakteristik alamnya, seperti mata air, rumpun bambu, sungai kecil, dan gumuk, melalui jalan kebudayaan, terus dijaga bersama.

Baca Juga: Zainudin Amali mundur, Jokowi menunjuk Koordinator Pembangunan dan Kebudayaan

Jalan kebudayaan yang dimaksud adalah kegiatan kultural yang didesain dan dijalankan untuk mengajak warga, dari anak-anak hingga orang tua, untuk mencintai dan mempertahankan karakteristik kawasan.

Koordinator Pusakajaya Unej yang juga Ketua panitia kegiatan Ikwan Setiawan mengatakan gumuk, sawah, rumpun bambu, sungai kecil, dan mata air adalah kekayaan lingkungan alam di Kampung Jambuan, sekaligus ruang hidup warga.

Namun, tak jauh dari kawasan itu, banyak perumahan berdiri yang menggunakan lahan subur. Rayuan uang para developer menjadikan sebagian warga Jambuan melepas lahan mereka, sehingga jalan kebudayaan menjadi salah satu cara untuk terus memperkuat kecintaan warga terhadap ruang hidup yang memiliki kekayaan dan keunikan lingkungan.

Baca Juga: Diskusi Satu Pena, akan Undang Penulis Senior Eka Budianta Bahas Sastra, Demokrasi dan Lingkungan Kebudayaan

Tahun 2024, Purnama di Jambuan berlangsung 21-22 Juli 2024 dan "Nyambhengih Sombher" menjadi kegiatan pembuka, sehingga anak-anak di kampung setempat diajak mengunjungi beberapa mata air yang mengalirkan air sepanjang tahun, menjadikan sungai-sungai kecil terus bermanfaat untuk pertanian dan keperluan warga.

Di setiap mata air yang dikunjungi, anak-anak mendapatkan penjelasan tentang pentingnya mata air bagi kehidupan warga. Selain itu, anak-anak diajak berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa selalu melindungi mata air dan terus memberikan manfaat kepada warga.

Selain "Nyambhengi Shomber", di hari pertama Purnama di Jambuan juga digelar "Rokat Sombher" (ruwatan mata air), yakni ritual sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas melimpahnya air yang bermanfaat buat warga.

Baca Juga: Kemenko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sebut Kepala Daerah Seperti Ini Bisa Hambat Pembangunan

Ritual di kawasan mata air itu dipimpin oleh tokoh adat Jambuan dengan menggunakan doa khusus dan warga secara khusuk mengikuti ritual dengan membawa rasol (sesajen nasi dengan telur) yang ditempatkan di ancak (tempat makanan terbuat dari pelepah pisang) serta tajin (bubur) merah putih.

Halaman:
1
2
3
4
Sumber: Antara

Berita Terkait