Denny JA Terbitkan Buku Puisi Esai ke-6 tentang Sisi Gelap Sejarah Kemerdekaan
- Penulis : Ulil
- Senin, 24 Juni 2024 12:58 WIB

Mereka begitu menderita karena kurangnya fasilitas yang diberikan. Banyak dari mereka yang kemudian mati secara merana.
Juga kisah mengenai para gadis pribumi yang menjadi pembantu rumah tangga, sekaligus juga menjadi gundik atau istri yang tak dinikahi bagi tuan-tuan Belanda.
Denny JA sendiri menyelami dilema moral yang dihadapi Bung Karno ketika itu sebagai seorang pemimpin di era kemerdekaan.
Ia paham, pastilah Bung Karno sangat ingin sekali Indonesia merdeka. Tapi apa daya waktut itu Jepang yang berkuasa. Jepang baru saja mengalahkan Belanda.
Bung Karno punya pilihan bekerja sama dengan Jepang melawan tentara sekutu. Bung Karno meyakini Jepang nantinya membantu Indonesia untuk menang.
Karena harapan itu, Bung Karno membantu Jepang mendapat tenaga kerja Indonesia yang banyak bagi aneka programnya. Salah satunya adalah program untuk memobilisasi tenaga kerja.
Baca Juga: 4 Lukisan Denny JA dengan asisten Artificial Intelligence soal The Harmony of Religions
Bung Karno mengakui sendiri ia ikut memobilisasi pemuda-pemuda Indonesia untuk mau bekerja sebagai romusha. Ia berfoto untuk itu. Bung Karno juga berkampanye agar program itu sukses.
Bung Karno tidak menyangka pemuda-pemuda yang bekerja kepada Jepang itu menderita, dengan sangat menyedihkan. Tersiksa. Terhina.
Banyak dari mereka dikirim bertumpuk-tumpuk di kereta api, yang pengap. Lalu sebagian mati di kereta api. Mayatnya pun dibuang di jalan.
Baca Juga: Denny JA: Universalization of the Religious Message
Banyak dari mereka juga yang dikirim ke luar negeri naik kapal laut berdesakan. Tanpa makanan cukup. Tanpa fasilitas kesehatan memadai.