Duh, WHO Sebut dari 254 Juta Orang di Dunia yang Terinfeksi Hepatitis C, 86 Persen di Antaranya Tidak Menyadari
- Penulis : Ulil
- Sabtu, 22 Juni 2024 08:10 WIB

Diagnosis hepatitis di Indonesia umumnya ditempuh melalui tes antibodi maupun PCR, layaknya penanganan kasus COVID-19.
Tak jarang, kasus hepatitis disadari penderita saat mereka melakukan skrining donor darah. Palang Merah Indonesia (PMI) selaku penyelenggara layanan biasanya menyampaikan surat pemberitahuan bahwa yang bersangkutan positif hepatitis.
Ada pula hepatitis yang dideteksi oleh tim medis pada saat proses melamar kerja melalui alat tes serologi.
Meski hepatitis tak tampak secara kasat mata, tapi stigma terhadap pasien masih dirasakan, contohnya beberapa perusahaan yang mewajibkan tes HBsAg (protein virus dalam tubuh) untuk menentukan apakah seseorang terinfeksi virus hepatitis B atau tidak.
Dalam beberapa kasus, hasil tes HbsAg menjadi syarat lulus tidaknya seseorang ketika melamar pekerjaan hingga menjadi pertimbangan saat akan naik pangkat.
Triple Elimination
Baca Juga: Waspada, WHO Umumkan Satu Orang Meninggal akibat Tertular Jenis Flu Burung Baru
Pada 2016, Majelis Kesehatan Dunia dengan suara bulat mengadopsi resolusi bahwa virus hepatitis harus dihilangkan pada tahun 2030 melalui Strategi Sektor Kesehatan Global.
Strategi itu menekankan setiap negara mencapai angka eliminasi minimal sebesar 90 persen dari angka kejadian dan penurunan angka kematian akibat hepatitis B dan C sebesar 65 persen, dari tahun 2015 hingga 2030.
Menindaklanjuti hal itu, Kementerian Kesehatan telah memetakan dua simpul masalah penularan hepatitis, yakni bersumber dari ibu hamil ke bayi yang dikandung dengan risiko kondisi kronik mencapai 90 persen, sebab bayi belum memiliki kekebalan tubuh yang sempurna.
Baca Juga: Duh! Para Dokter di Empat Rumah Sakit Afiliasi Universitas Nasional Seoul Korsel, Ancam Mogok Kerja
Selain itu, hepatitis yang umumnya menular via transmisi darah pada kulit terkelupas juga rentan terjadi di kalangan tenaga medis.