DECEMBER 9, 2022
News

Duh, WHO Sebut dari 254 Juta Orang di Dunia yang Terinfeksi Hepatitis C, 86 Persen di Antaranya Tidak Menyadari

image
Sejumlah tokoh mengampanyekan bahaya hepatitis di sela agenda Asia-Pacific Internasional Riche Infectiouse Disease Symposium (APAC-IRIDS)/ (ANTARA/Andi Firdaus)

Di Vietnam, kanker hati menduduki peringkat teratas dalam jumlah kematian dengan lebih dari 23 ribu kasus per tahun.

Jumlah kasus kanker hati juga meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Sejak tahun 2018, kanker hati menduduki peringkat pertama dalam kasus baru dan angka kematian di Vietnam.

Situasi Indonesia

Baca Juga: Harapan Prabowo Terhadap Kepemimpinan RI: Orang-orang tersenyum - Anda tidak perlu membayar rumah sakit 

Kementerian Kesehatan RI memublikasikan angka penderita hepatitis mencapai lebih dari 20 juta orang dengan prevalensi tertinggi pada kasus hepatitis B.

Sedangkan angka kematian akibat hepatitis B di Indonesia mencapai 51.100 setiap tahun dan kematian akibat hepatitis C sebesar 5.942 tiap tahun sejak 2016.

Menurut data BPJS Kesehatan pada 2022, sebanyak 2.159 orang meninggal karena sirosis dan kanker hati, yang merupakan dampak dari hepatitis kronis yang biasanya dialami orang dengan hepatitis B pada stadium lanjut.

Baca Juga: Waspada, WHO Umumkan Satu Orang Meninggal akibat Tertular Jenis Flu Burung Baru

Hepatolog dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), Andri Sanityoso Sulaiman yang hadir di agenda APAC-IRIDS 2024, menyebut angka tersebut sebagai fenomena 'gunung es', bahwa fakta sebenarnya memiliki jumlah yang lebih besar.

Alasannya, ada banyak masyarakat Indonesia yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap hepatitis karena gejala yang sulit untuk dikenali, sehingga tidak mencari pengobatan.

Gejala umum yang membuat penderita sadar berupa bercak kuning, khususnya di bagian mata yang sekaligus menandai gejala akut hepatitis.

Baca Juga: Duh! Para Dokter di Empat Rumah Sakit Afiliasi Universitas Nasional Seoul Korsel, Ancam Mogok Kerja

Namun terkadang, gejala itu bisa hilang dengan sendirinya tanpa disertai demam, mual, dan muntah. Tapi meski gejalanya hilang, virus tetap bersarang di hati penderita dan terus berkembang.

Halaman:
1
2
3
4
Sumber: Antara

Berita Terkait