Puisi Denny JA: Mereka Tak Terima Keyakinan yang Diberi Orangtuaku
- Penulis : Ulil
- Selasa, 03 Desember 2024 08:19 WIB

POLITIKABC.COM - Semarang, 2016. Anwar berdiri di depan gerbang sekolahnya,
sekolah yang dulu ia sebut rumah kedua.
Kini, ia merasa menjadi tamu tak diundang, tertolak oleh sesuatu yang tak ia pahami.1
-000-
Baca Juga: Puisi Denny JA: Kubawa Cincin Janjiku
Keyakinan kami bukanlah kata dalam daftar resmi,
bukan deretan huruf di kolom KTP.
Hayu Ningrat, warisan leluhur yang menenun jiwa kami,
dipandang seperti bayang-bayang,
tak layak diterima terang.
Saat masih kanak, orang tuaku memberi keputusan:
“Daftarkan sebagai penganut agama tertentu agar ia aman di negeri ini.”
Baca Juga: Storytelling Melalui Puisi Esai tentang LGBT dan Lainnya
Namun kini, pilihan itu berubah duri.
Kata guru: “Kamu beragama ini di atas kertas,
maka doa seperti itu adalah keharusanmu.”
Aku menolak, dengan hati yang gemetar,
sebab keyakinanku bukanlah permainan peran.
-000-
Baca Juga: Puisi Denny JA: Nasionalisme di Era Algoritma
“Mengapa mereka memaksa aku menjadi asing?”
Anwar bertanya dalam sunyi.
“Mengapa warisan darahku tak diterima?
Adakah aku ini pohon yang salah tumbuh,
di tanah yang hanya menyukai mawar?”