
Paspor Anwar direnggut,
ia melayang bagai daun lepas dari pohon,
tak lagi punya akar.
Cincin itu,
sebuah janji yang tertahan di sakunya,
tetap di sana, menunggu waktu pulang,
harapan yang tak kunjung padam.
-000-
Baca Juga: Puisi Denny JA: Perempuan Itu Belajar di Bawah Cahaya Kunang-kunang
Namun Farah tak menunggu,
hidupnya melangkah di jalan sunyi yang berbeda,
Farah menjadi ranting patah yang tumbuh menjauh,
dipaksa ayahnya mengikat diri pada pria lain,
takdir yang tak pernah ia pinta.
Di mata ayah Farah, Anwar hanya bayangan kelam,
terkubur prasangka dan tuduhan pengkhianat negara.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ilmu Menjadi Tanah Air Pengganti
Anwar sendiri, terombang-ambing di negeri orang,
terdampar di Beijing, terkunci di Moskow,
tersesat di antara wajah-wajah asing,
Ia berjalan di keramaian yang sunyi,
bahkan bahasa pun seolah tak lagi menyentuh jiwanya.
Era reformasi datang.
Setelah sekian lama,
pintu pulang terbuka,
negeri ini memanggil mereka yang hilang,
menyambut anak-anak yang terbuang oleh sejarah.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Dilema di Tanah Asing
Namun Farah—
kekasih yang ia janji pulang itu,
telah wafat,
menyatu dengan tanah.