
-000-
Waktu menghantamnya keras.
Moskow, negeri merah,
dengan Kremlin yang megah,
Kuba emas yang berkilau,
tak lebih dari bayangan yang sunyi.
Di balik kemegahan,
jiwa terkubur,
seperti daun yang tertiup,
di atas tanah tandus.
Baca Juga: Puisi Denny JA: 12 Jam Protes Berbaring di Jalan Raya
Mualim, di jantung revolusi,
melihat ombak besar,
tak tahu kapan reda,
tak tahu di mana mereda.
-000-
Di antara menara raksasa, di kota Moskow,
Mualim melihat kebesaran yang kosong
patung Lenin berdiri,
tapi mata batunya hampa.
Baca Juga: Puisi Denny JA: Ibu, Kukirim Nyawaku Padamu, Sampaikah?
Kereta bawah tanah melesat,
stasiun-stasiun penuh mosaik.
Namun, siapa peduli pada keindahan
ketika jiwa beku di dalam?
Ia tersesat,
di labirin kota yang dingin,
di janji revolusi yang meredup,
di salju yang turun tanpa akhir,
menelan tubuhnya perlahan.
-000-
Baca Juga: Puisi Denny JA: Negaraku Hilang, Kekasihku Sirna
Mualim berdiri di pinggir sungai Moskva,
menatap air yang tak mengalir,
seperti hidupnya,
terhenti, tak tahu ke mana pergi.