Yang Bukan Kritikus Seni Rupa Boleh Ambil Bagian: Sebuah Pengantar Buku Pameran Lukisan Bantuan AI dari Denny JA
- Penulis : Ulil
- Rabu, 24 Juli 2024 08:57 WIB

Lukisan serial tema Lailatul Qadar, ada yang menguraikannya seperti ini:
“Contohnya tema “Lailatul Qadar” yang terdiri dari belasan lukisan dalam berbagai ukuran kanvas dan bauran visual.”
“Komposisi lukisan bersifat tipikal dengan separuh bagian atas menggambarkan kondisi langit malam dalam format aneka bentuk garis, kurva, dan warna. Sedangkan separuh bagian bawah menampilkan manusia dalam berbagai jumlah dan posisi.”
Baca Juga: Pandangan Denny JA tentang Menangnya Gerakan Katakan Tidak kepada Keharusan Berjilbab
“Kadang seorang, kadang banyak. Kadang lelaki, kadang perempuan. Semua dalam posisi berdoa. Khusyuk.
“Dengan membuat serial lukisan bertema ini, Denny JA bukan saja sedang meletakkan hati dan kerinduan spiritualnya ke atas kanvas, juga seakan hendak melengkapi Teori Kebutuhan Dasar ( Hierarchy of Needs) dari Abraham Maslow.”
“Bahwa manusia tak cukup hanya ditopang dengan kebutuhan fisiologis ( physiological needs), kebutuhan keamanan ( safety needs), kebutuhan sosial ( social needs), kebutuhan ego ( egoistic needs) dan kebutuhan aktualisasi diri ( self-actualization needs). Manusia juga perlu kebutuhan keyakinan ( spiritual needs) secara mutlak, terlepas dari tingkat aktualisasi diri yang sudah diraihnya.” (Akmal Nasery Basral)
Baca Juga: 4 Lukisan Artificial Intelligence Denny JA: Paus Fransiskus Mencuci Kaki Rakyat Kecil Indonesia
Ketika melihat lukisan wajah yang tak terlalu detil, ada komentar ini:
“Yang menarik, kualitas ketajaman wajah pada lukisan itu berbeda-beda. Ada yang detailnya muncul. Karakter wajah jadi tebal. Ada pula tidak banyak garis di muka.”
“Wajah Ibu Teresa, di beberapa lukisan di sini, banyak ragamnya. Bahkan wajah pelukis Affandi, yang memiliki gaya aut-autannya, detailnya juga hilang.”
“Tentu saja hal ini disengaja oleh Denny. Sebab aplikasi AI sebenarnya mampu mengeluarkan detail wajah seseorang. Tapi Denny tidak melakukannya, atau tidak memilih aplikasi berintelejen untuk mengeluarkan guratan wajah seseorang.”