Warga Jakarta Ini Puluhan Tahun Tinggal di Bawah Kolong Tol Jembatan Tiga Pejagalan, Kini Direlokasi ke Rusunawa
- Penulis : Ulil
- Minggu, 01 Desember 2024 16:26 WIB

POLITIKABC.COM - Warga mengaku relawan direlokasi ke Rusunawa Tongkol, Pademangan, setelah puluhan tahun tinggal di rumah bedeng yang mereka bangun di kolong Tol Jembatan Tiga Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara.
Lurah Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, Tommy Haryanto mengatakan, ada 500 kepala keluarga (KK) yang memiliki KTP Jakarta di kolong tol Jembatan Tiga ini.
"Mereka direlokasi secara bertahap ke rusun yang sudah disiapkan pemerintah. Mereka yang bisa masuk rusun tentu yang memiliki KTP DKI Jakarta," kata dia, Minggu 1 Desember 2024.
Baca Juga: 61 Rumah di Jalan Ujung Tanah Makassar Terancam Digusur, Warga: Surat Pengosongan Mendadak
Ia mengatakan, pemindahan ini dilakukan secara bertahap dan hari ini dilakukan relokasi terhadap 34 KK. "Besok kita lakukan lagi relokasi dan datanya sudah ada," jelasnya.
"Saya hidup di sini sejak 1993 hingga memiliki lima anak dan lima cucu di sini," kata Wasto, salah satu warga kolong tol tersebut saat relokasi dari lokasi tinggalnya selama ini di Jakarta, Minggu 1 Desember 2024.
Ia mengemukakan, dulu di lokasi tersebut adalah perkampungan. Dia ikut menggarap lahan lalu ada penggusuran jalan tol dan warga di sini pindah.
Baca Juga: Pilkada DKI Jakarta: Cagub Ridwan Kamil Janji Tidak akan Sembarangan Melakukan Penggusuran
"Setelah pembangunan selesai dan bisa ditempati beberapa warga kembali ke sini," kata dia.
Dulunya dia datang ke lokasi dan membangun tempat tinggal dengan membeli triplek bekas yang ditata hingga bisa ditempati.
"Anak saya lahir di sini semua, sekarang tiga anak sudah berumah tangga dan dua anak masih belum menikah. Mereka semua tinggal di sini," kata warga yang mengaku berasal dari Brebes, Jawa Tengah, itu.
Baca Juga: Pilkada DKI Jakarta 2024, Ridwan Kamil Sebut era Gubernur Ahok Paling Banyak Melakukan Penggusuran
Menurut dia, untuk kebutuhan listrik ada warga yang menyalurkan dan dirinya membayar Rp20 ribu per bulan. Sedangkan untuk kebutuhan air, ada yang membuat sumur sendiri dan ada juga warga membeli melalui air gerobakan.