DECEMBER 9, 2022
Puisi

Puisi Denny JA: Mencari Akar Keluarga di Kebumen

image
Puisi Denny JA: Mencari Akar Keluarga di Kebumen. (POlitikabc.com/kiriman)

Sementara Ayah,
datang dari zaman berbeda,
terasing, terbuang,
dari negara sendiri.

Tahun 1962, ayahnya, Sartono, berangkat ke Rusia.  
Bung Karno mengirimnya untuk belajar.  

Di dalam kopernya ada buku,  
dan bendera merah putih.  
Di dalam dadanya,  
ada janji kepada kedua orang tua:  
“Aku akan pulang,
membangun negeri.”

Baca Juga: Denny JA: Penyair di Payakumbuh Bebas Menyatakan Pendapat Tapi Keliru Mencampuradukkan Puisi Esai dengan SATUPENA

Namun badai politik tahun 1965,  
menggulung habis mimpi.
Mengubah hidup.

Raksasa berperang di desa dan kota.
Di hutan, hewan terpanah.
Di sungai, ikan berdarah.

Rezim berubah.
Negeri yang mengirimnya belajar kini menolaknya.

Baca Juga: Jeritan dan Harapan Anak-anak Pekerja Migran Ilegal Asal Indonesia, Espresi Melalui Puisi Esai

Sartono  bagian rezim lama,  
harus ditumpas hingga ke akar.

Surat-surat dari tanah air berhenti.  
Paspor Sartono dicabut.  

“Mengapa negara melupakan kita, Ayah?”
tanya Pubarto saat kecil.  

Baca Juga: Puisi Esai: Memilih Tak Menikah Sambil Memelihara Kucing atau Anjing, hingga Kisah Koruptor di Makam Pahlawan

Tahun demi tahun berlalu.  
Setiap malam, Sartono berdiri di jendela, di apartemen kecil, di kota Moskow.

Halaman:
1
2
3
4

Berita Terkait