Catatan Denny JA: Ayah, Semoga Abu Jasadmu Sampai ke Pantai Indonesia
- Penulis : Ulil
- Minggu, 15 September 2024 10:21 WIB

"Kenapa mereka mengambil hakku?"
Baskara sering bertanya.
Namun tak ada jawab.
Ia terasing di negeri orang.
Tak bisa kembali.
Teman-temannya yang pulang,
hilang tanpa kabar.
Ia juga mendengar,
jika pulang, ia segera dipenjara dan disiksa.
Dan ayahnya,
dituduh Soekarnois,
kiri, komunis, hilang entah di mana.
Padahal Ayah hanya petani sederhana.
Baca Juga: Milenial dan Generasi Z Berdiskusi Buku Hijrah Berkali-kali Ala Denny JA
Ia hanya mendengar sayup-sayup,
Ayah dibunuh di satu tempat.
Hidup di Beijing,
Baskara menjadi pohon tanpa akar.
Tubuhnya gentayangan di negeri asing.
Tapi jiwanya tertinggal di Indonesia.
Tujuh tahun lamanya,
menunggu tanpa harapan.
Negara yang dikira akan menjemput
malah membuangnya.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Mencari Dua Karakter Paus Fransiskus
Tak tahan menjadi warga tanpa negara,
Baskara pun menjadi warga Swedia.
Tahun 2015,
Baskara pulang,
menjenguk ibu,
juga mencari Ayah yang tak kunjung pulang.
Namun, ia dideportasi.
Dituduh berniat bangkitkan komunisme.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Penulis di Era Artificial Intelligence dan 6 Data Statistik
Di masa tua,
duduk di beranda rumah,
di Swedia,
angin menyanyikan lagu keroncong,
yang sering didengarnya saat kecil,
ketika ia digendong ibu.