DECEMBER 9, 2022
Kolom

Denny JA Mengungkap Tiga Fakta Tercecer Sejarah Bangsa

image
Pandangan Akmal Nasery Basral tentang Denny JA dan fakta sejarah bangsa. (Politikabc.com/kiriman)

Tapi Asih merasa sepi

Terasa 

Istri dan anak Arthur memusuhi

Baca Juga: ORASI DENNY JA: Sisi Ekonomi Gerakan Lingkungan Hidup dan Green Religions

Terasa. 

(“Nyai Asih Ikut ke Belanda”, hal. 63-64).

Sejak Denny J.A. mengibarkan ‘bendera’ puisi esai dalam ranah sastra nasional melalui antologi perdana Atas Nama Cinta (2012), butuh waktu satu windu bagi puisi esai sebelum menjadi lema resmi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring yang mendefinisikan sebagai ‘jenis puisi yang mengandung pesan sosial dan moral melalui kata-kata sederhana dengan pola berbait-bait berupa fakta, fiksi dan catatan kaki'. 

Baca Juga: Penggagas Rumah Dunia, Gola Gong: Denny JA Berkarya di Era Financial Freedom

Puisi esai menjalani metamorfosisnya dalam 12 tahun perjalanannya hingga tahun ini.  Ada setidaknya dua perbedaan format puisi esai periode awal dan periode sekarang, sependek pengamatan saya. 

Pertama pada panjang puisi atau durasi pembacaan jika dibawakan di atas panggung. Jika puisi esai periode awal seperti  Atas Nama Cinta dibawakan para dramawan dan sastrawan Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri atau Sujiwo Tejo, maka satu karya membutuhkan waktu 30 – 40 menit pembacaan. 

Sementara, karya-karya pada Yang Tercecer ini jauh lebih singkat karena hanya membutuhkan waktu 5-10 menit pembacaan. 

Baca Juga: Jonminofri Nazir Sampaikan Perhatian Besar Denny JA pada SATUPENA

“Memang niat saya untuk semakin melibatkan sebanyak mungkin elemen masyarakat agar lebih mengakrabi puisi esai. Salah satunya melalui durasi yang diperpendek tanpa mengurangi relevansi pesan yang disampaikan,” ungkap Denny J.A. kepada saya dalam sebuah pembicaraan. 

Halaman:
1
2
3
4
5
6

Berita Terkait