Pandangan Denny JA tentang Menangnya Gerakan Katakan Tidak kepada Keharusan Berjilbab
- Penulis : Ulil
- Kamis, 11 Juli 2024 09:30 WIB

“Negara tidak boleh mengatur cara kita berpakaian. Yang penting pakaian kita sopan. Apakah kita memakai jilbab atau tidak, sepenuhnya hak kita.”
Gerakan dengan tokoh utama Vida ini meluas menjadi percakapan publik. Foto Vida melepas jilbab dan meletakkan di atas tongkat menjadi foto yang ikonik.
Ia menjadi simbol keberanian perempuan Iran menolak Negara dan Otoritas Agama terlalu jauh mendominasi dunia perempuan.
Lalu muncul kembali gerakan dan protes paling panjang, paling besar, dan paling lama dari gerakan perempuan di Iran menentang kewajiban memakai jilbab. Ini berlangsung di tahun 2022 hingga 2023.
Ini gerakan yang hampir satu tahun usianya, disebut "Mahsa Amini Protests". Protes ini meluas akibat meninggalnya Mahsa Amini.
Amini seorang perempaun yang tidak memakai jilbab. Akibatnya, ia ditangkap oleh polisi agama dan dipenjara. Dalam penjara, ia tetap menunjukkan perlawanannya.
Baca Juga: 4 Lukisan Artificial Intelligence Denny JA: Ada Suara Tanpa Kata, Dengarlah
Amini mengatakan bahwa ia punya hak untuk memakai jilbab atau tidak. Lalu terdengar sayup-sayup dari luar. Mahsa Amini disiksa dan berujung pada kematiannya.
Segera ini menjadi berita besar di Iran. Ini sudah dianggap melampaui batas: ada seorang perempuan mati di penjara karena menolak memakai jilbab.
Gerakan meluas karena kondisi di bawah permukaan sudah membara. Berita ini dicatat oleh The New York Times dan juga oleh Iran Human Rights.
Mereka mencatat sebanyak 476 orang tewas karena gerakan ini. Begitu banyak yang memberontak atas aturan ini, namun polisi begitu keras menekannya.