Catatan Denny JA: Dana Abadi untuk Festival Tahunan Puisi Esai
- Penulis : Ulil
- Rabu, 20 November 2024 18:52 WIB

“Seni bukan hanya cermin realitas, tetapi juga cahaya yang mengubahnya.”
— Bertolt Brecht
POLITIKABC.COM - Kutipan ini yang saya ingat ketika memutuskan menyiapkan dana abadi untuk sebuah kegiatan seni: Festival Tahunan Puisi Esai.
Baca Juga: Catatan Denny JA: Menyelamlah, Apapun Agama yang Dianut
Kutipan ini adalah pengingat bahwa seni, sebagaimana puisi esai, memiliki dua wajah: merekam kehidupan sebagaimana adanya dan menggerakkan dunia menuju apa yang seharusnya.
Dalam konteks puisi esai, seni ini menjadi cermin dan obor, merekam ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat sembari mengilhami kita untuk mencari keadilan.
Tapi seni, terutama sastra, membutuhkan ruang untuk tumbuh, panggung untuk menampilkan, dan dukungan untuk bertahan melawan hegemoni pasar bebas.
Baca Juga: Orasi Denny JA: Catatan Perjalanan dari Wina, Cahaya Musik Klasik
Dunia sastra adalah sebuah paradoks. Di satu sisi, penelitian menunjukkan bahwa membaca sastra meningkatkan empati. Para pembaca sastra cenderung lebih memahami penderitaan orang lain, lebih peka terhadap keragaman identitas, dan lebih peduli terhadap ketidakadilan.
Namun, di sisi lain, komunitas sastra jangka panjang tidak dapat hidup dari hukum pasar saja. Seni membutuhkan subsidi; sastra membutuhkan uluran tangan yang memastikan panggungnya tetap ada.
-000-
Baca Juga: Orasi Denny JA: Catatan dari Wina, Membuat Kota yang Paling Nyaman Dihuni
Sejarah membuktikan, dana abadi adalah katalis bagi keberlanjutan seni.