
Tapi ada pula anggota yang penulis saja, bukan penulis aktivis, tak suka membaca debat politik praktis. Mereka memilih left the group.
Namun mereka juga anggota Satupena yang sah. Minat dan keberatan mereka harus pula diakomodasi. Maka akan dibuatkan WAG terpisah bernama WAG Satupena Non-Politik Praktis.
---
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Kisah Cinta Tanah Air di Dalam Film Eksil
Saya merenungkan mengapa susah memimpin organisasi seniman, juga penulis. Indonesia sudah merdeka 79 tahun, tapi tak ada organisasi penulis nasional di Indonesia yang usianya di atas 20 tahun, misalnya.
Organisasi Satupena yang kini saya pimpin, sebelum saya terpilih menjadi ketua umum, sudah pula terpecah dua, di tahun ke-4 atau tahun ke-5. Ada dua organisasi yang sama-sama bernama Satupena, dengan akte yang sama, namun hanya beda pengurus saja.
Ketika saya menjadi ketua umum (2021-2026), saya berhasil membuat kepengurusan saya di Satupena menjadi satu-satunya yang sah di mata hukum. Ini saya lakukan di bulan pertama. Organisasi Satupena lainnya berganti nama.
Baca Juga: ORASI DENNY JA: Dibatalkannya RUU Pilkada dan Pentingnya Kompetisi Politik
Saya merenungkan mengapa menurut Gus Dur, memimpin seniman itu lebih susah dibandingkan mengurus negara? Termasuk juga mengurus penulis?
Berikut adalah tiga alasan utama yang menjelaskan fenomena ini:
Pertama: Beragamnya Spektrum dan Persepsi Penulis
Baca Juga: Pandangan Denny JA tentang RUU Pilkada, Putusan MK, Kompetisi Politik, dan Tiga Berkah Proklamasi
Penulis adalah individu dengan latar belakang, pengalaman, dan pandangan hidup yang sangat beragam. Spektrum ide dan persepsi mereka terhadap berbagai isu—baik itu sosial, politik, budaya, atau artistik—sangat luas.